Tahlil, antara bid’ah dan sunnah

PENDAHULUAN

Dengan semakin banyaknya gerakan-gerakan Islam di Nusantara yang akhir-akir ini semakin bervariatif, dari ‘pemain lama’ semisal NU dan Muhammadiyyah yang cukup moderat, hingga para ‘pemain baru’ yang begitu fundamentalis, sampai gerakan segelintir anak-anak negeri yang cukup liberal.

Semestinya kita akan bangga dengan semangat ke-Islam-an yang diusung oleh mereka. Namun fakta berbicara lain, kemapanan pola keberagamaan masyarakat yang telah diperjuangkan para ‘pemain lama’ ternyata malah diusik oleh ‘pemain baru yang entah dengan motif apa. Terbukti terdapat banyak sekali upaya-upaya untuk menjauhkan masyarakat dari Ulamanya, membuat mereka ragu, bahkan sedikit demi sedikit meninggalkan kegiatan keagamaan dan beralih pada ‘dakwah baru’ yang dikoarkan. Bukan hanya itu, bahkan kecenderungan untuk berani mencerca dan ‘melukai hati’ para sesepuh pun semakin mengemuka dan menjadi hal lumrah. Aksi penyesatan, pembid’ahan, dan pengkafiran sesame muslim pun menjadi hobi baru yang semakin berkembang.

Oleh sebab itu, pemahaman kembali pada budaya yang sebenarnya merupakan hasil ijtihad dakwah para Ulama terdahulu menjadi suatu keniscayaan. Selain itu, upaya rumusan-rumusan baru atas berbagai budaya masyarakat yang tidak akan pernah lepas dari koridor-koridor Syari’at juga harus dilakukan, sehingga budaya apapun yang sedang dan akan kita temui, bisa disikapi secara bijak tanpa terburu-buru menvonis sesat, bid’ah, dan kafir pada sesama Muslim.

Sekiranya, demikianlah segelintir pengantar yang dapat kami tuliskan.

Brabo, 12 Januari 2011

 

BAB I

MEMAHAMI BID’AH

  1. A.    PENGERTIAN BID’AH

Bid’ah dalam bahasa Arab berasal dari fi’il madhi بدع  yang memiliki dua arti.

Pertama, membuat hal baru tanpa contoh sebelumnya. Dalam Al-Qur’an;

بديع السموات والارض (البقرة :117 )                                                                                                                    

Allah pencipta langit dan bumi” (al-Baqoroh : 117)

Maksudnya Allah adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi tanpa sketsa dan model yang ditiru, murni kreasi-Nya.

Kedua, bid’ah diartikan dengan letih atau lemah. Sebagai mana kisah hadits, seorang lelaki yang kendaraannya mati dan tidak bisa melanjutkan perjalanan mengadu pada Rasululloh SAW;

اني ابدع بي فاحملني                                                                                                                                  

“Sungguh aku tidak mampu melanjutkan perjalanan, maka bawalah aku!” (HR.Muslim)

Demikian menurut pakar bahasa dan sastra, Ibn Faris dalam Maqayis al-Lughohnya.[i]  namun pada kajian bid’ah, arti pertamalah yang popular diungkapkan oleh para ulama.

Sementara menurut agama, bid’ah adalah setiap pembaruan aqidah, perbuatan ataupun ucapan tanpa legalitas Syari’at, serta diklaim sebagai bagian dari Syari’at.

Dalam sebuah riwayat disebutkan;

وشر الامور محدثتها وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار                                                                                   

“dan perkara yang terburuk adalah pembaruan-pembaruannya, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan (berada) dalam neraka.” (HR. an-Nasa’i)

Ungkapan Nabi وكل ضلالة في النار merupakan dasar agama yang urgen dan universal, mencakup segala bentuk pembaruan dalam agama. Namun, perlu dipahami bahwa Nabi adalah penyampai Syari’at dari Allah, sehingga ungkapannya merupakan ungkapan Syara’. Oleh karena itu, bid’ah yang divonis sesat dan diancam neraka harus dipahami pula dengan pemahaman Syara’. Yakni pembaruan yang diklaim sebagai bagian dari agama tetapi tanpa ada dalil yang yang melegalkannya. Tidak memandang pembaruan tersebut berupa keyakinan, perbuatan, ataupun ucapan.[ii]

Lain halnya bila pembaruan itu memiliki legalitas Syara’ dari dalil-dalil hukum Islam, maka tidak bisa disebut sebagai bid’ah yang menyesatkan, apalagi dianggap sebagai penyebab kemurtadan, meskipun secara bahasa pembaruan tersebut termasuk kategori bid’ah.

Pembagian Bid’ah

Ibn Hajar al-Asqolani mengungkapkan, “Dan maksud sabda Nabi SAW “Setiap bid’ah adalah kesesatan” adalah pembaruan yang tidak memiliki dalil Syara’, baik dalil khusus maupun dalil umum.”[iii]

       Dari pola pikir demikian, mayoritas Ulama membagi bid’ah menjadi dua, bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. bid’ah mahmudah adalah bid’ah yang selaras dengan Sunnah. Sedangkan bid’ah  madzmumah adalah bid’ah yang bertentangan dengannya.

Sedangkan Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam membaginya secara terperinci menjadi lima sesuai dengan hukum Islam. Yaitu;

  1. Bid’ah wajib, seperti; belajar ilmu nahwu (gramatika arab) untuk memahami al-Qur’an dan Hadits.
  2. Bid’ah Sunnah, seperti; mendirikan pesantren, madrasah dan setiap kegiatan social yang belum pernah dikenal pada zaman Rasululloh SAW.
  3. Bid’ah mubah, seperti; berjabat tangan setelah shalat dan membaca ta’awudz sebelum shalat.
  4. Bid’ah makruh, seperti; menghiasi masjid dan mushaf al-Qur’an.
  5. Bid’ah haram, seperti; madzhab Jabariyah dan Qadariyah.[iv]

Dari pemaparan diatas, maka sudah sangat jelas sekali bahwa bid’ah yang memiliki landasan hukum, bukanlah bid’ah yang menyesatkan dan diancam neraka. Lebih tepatnya, dalam kacamata Syari’at ia tidak dihukumi bid’ah, hanya saja oleh para Ulama hal tersebut sering disebut dengan kata bid’ah mengingat belum pernah dilakukan pada masa awal Islam. Dengan kata lain, bid’ah yang dikehendaki adalah bid’ah dalam arti bahasa.

  1. B.     BID’AHKAH SETIAP HAL YANG TIDAK DILAKUKAN NABI SAW?

Banyak kalangan menganggap setiap perkara yang tidak pernah dilakukan Nabi adalah bid’ah. Sehingga mereka dengan mudah dan tanpa berpikir panjang mengklaim ahli bid’ah para pelakunya. Asumsi semacam ini tidak dapat dibenarkan, bahkan cenderung mengikis amalan-amalan agama yang telah popular di tengah masyarakat. Rasulullah sendiri bersabda;

ما احل الله في كتابه فهو حلال وما حرم فهو حرام وما سكت عنه فهو عافية فاقبلوا من الله العافية فان الله لم يكن نسيا ثم تلا هذه الاية وما كان ربك نسيا

“’Apa yang di halalkan Allah dalam kitabnya maka halal, apa yang diharamkan Allah maka haram, dan apa yang tidak dikomentari-Nya maka kemurahan. Maka terimalah kemurahan dari-Nya. Karena Allah SWT tidak pernah lupa’, lalu beliau membaca ayat ini; ‘Wamaa kaana Robbuka Nasiyya.’” (HR. Hakim, al-Bazzar dan ath-Thabrani)

Hal-Hal Yang Tidak Lakukan Nabi

       Dalam hadits tersebut, Rasulullah memberi penegasan bahwa setiap hal yang tidak dikomentari maka merupakan dispensasi langsung dari Allah. Sehingga dengan hadits ini dapat dimengerti, banyak sekali amal shaleh yang bisa dilakukan di luar nash al-Qur’an secara jelas dan terperinci.

Banyak hal yang sering kali ditinggalkan atau ditolak oleh Rasulullah dan semuanya memiliki beberapa alasan. Diantaranya seperti;

  1. Tidak sesuai dengan selera Nabi Muhammad SAW. Seperti penolakannya saat ditawari hidangan dhob (jenis hewan) bakar yang belum pernah beliau jumpai.
  2. Khawatir akan diwajibkan bagi umatnya. Seperti shalat tarawih.
  3. Belum terbersit di hati beliau. Seperti pembangunan menara masjid untuk adzan.
  4. Menjaga perasaan orang lain. Seperti perkataan beliau kepada Aisyah ;

لولا أن قومك حديثو عهد بجاهلية او قال بكفر لأنفقت كنز الكعبة في سبيل الله

       “Andai saja masyarakatmu tidak dekat dengan zaman jahiliyah, atau beliau berkata; “kekufuran,” niscaya aku alokasikan kekayaan Ka’bah pada kepentingan perang.”             (HR. Muslim)

  1. Karena telah tercakup dalam keumuman ayat al-Qur’an dan Hadits. Karena telah menjadi maklum, bahwa beliau juga seorang manusia, beliau tidak melakukan semua kesunnahan, karena telah termuat dalam al-Qur’an;

وافعلوا الخير لعلكم تفلحون ( الحج : 77)                                   

“Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj : 77)

       Oleh sebab itu, setiap hal yang tidak pernah dilakukan Nabi, tidak bisa dianggap bid’ah ataupun dihukumi haram hanya karena tidak pernah dilakukannya tanpa ada dalil yang melarangnya.

  1. C.    PEMBENARAN NABI SAW ATAS BID’AH PARA SAHABAT

Bukti nyata setiap hal yang tidak dilakukan Rasulluloh tidak bisa divonis sebagai bid’ah adalah pembaruan para sahabat dari hasil kreatif mereka tanpa ajaran atau anjuran dari Nabi Muhammad SAW, yang kemudian ditaqrir(legal)kan oleh beliau. Seperti beberapa kejadian berikut ini;

  1. Do’a-do’a kreasi pribadi para sahabat Nabi dalam shalat. Seperti yang diceritakan dalam hadist;

عن رفاعة بن رافع الزراقي قال كنا يوما نصلى وراء النبي صلى الله عليه وسلم فلما رفع رأسه من الركعة قال سمع الله لمن حمده قال رجل وراءه ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه فلما انصرف قال من المتكلم قال انا قال رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها ايهم يكتبها اول

Dari Rifa’ah bin Rofi’ az-Zuroqi, ia berkata,”Suatu hari kami shalat dibelakang Nabi, saat Nabi mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau berdo’a; “سمع الله لمن حمده. Seseorang dibelakangnya berdo’a, “ ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه “. Maka setelah selesai shalat Nabi menanyakan, “Siapa yang mengucapkan do’a  tadi?” orang tersebut menjawab; ”Saya”, Nabi bersabda; “Aku melihat tiga puluh lebih malaikat memperebutkannya dan tidak diketahui siapa yang pertama mencatatnya.” (HR. Bukhori)

Dengan hadits inilah pembaruan atau penambahan dzikir ghoir al-ma’tsur (bukan anjuran langsung dari Nabi) dalam shalat diperbolehkan seama tidak bertentangan dengan dzikir al-Ma’tsur.[v]

  1. Ide Bilal menambahkan tatswib (االصلاة خير من النوم) dalam adzan subuh.
  2. Pengobatan alernatif dengan ayat al-Qur’an. Seperti kisah Abu Sa’id mngobati orang yang tersengat kalajengking.

Pembaruan para sahabat juga berlangsung setelah Rasululloah wafat, seperti tindakan-tindakan sahabat ini;

  1. Tindakan Umar bin Khothob memerangi orang-orang yng tidak mau membayar zakat.
  2. Pemindahan maqam Ibrahim yang dilakukan Uar bin Khothob dari tempat asalnya yang menempel ka’bah ke tempet yang kita kenal sekarang.
  3. Pengumpulan mushaf oleh Utsman bin ‘Affan yang kini kita kenal sebagai rosm ‘Utsmany.

BAB II

TAHLILAN

Tahlilan berakar dari kata tahlil dalam bahasa Arab yang berarti mengucapan kalimat thayyibah لااله الا الله. Biasanya, tahlilan yang menjadi tradisi masyarakat ini digelar pada waktu kematian seseorang sampai hari ketujuh. Lalu secara berurutan pada hari ke-empat puluh hari, hari keseratus, dan hari ke seribu dari hari kematian yang biasa disebut dengan istilah nyewu.

Sampai sekarang, tradisi yang telah menjadi identitas masyarakat ini tidak lepas dari kontroversi. Ada pihak yang menyetujui keberadaanya dan ada pula yang antusias menolaknya dengan argumennya masing-maing.

Sebelum terlanjur mengklaim tahlilan sebagai kegiatan yang salah, alangkah baiknya bila kita kaji tradisi ini dengan baik dan bijak.

  1. A.    TINJAUAN HUKUM TAHLILAN

            Khilaf Ulama Tentang Penghadiahan Pahala

Perlu dimengerti, maksud dari menghadiahkan pahala ada dua;

1)      Menjadikan (meniati) pahala dari sebuah amal yang dikerjakan agar bias dinikmati oleh orang lainyang dituju.

2)      Berdo’a agar pahala dari amal tersebut bisa dinikmati oleh orang lain.

Dari dua masalah ini kemudian muncul berbagai pandangan. Imam syafi’i menyatakan bahwa seseorang tidak bisa menerima pahala bacaan al-Qur’an yang yang diniatkan orang lain untuk diberikan padanya. Berbeda dengan pendapat tiga imam madzhab lainnya. Imam Syafi’i berdalih dengan ayat;

وأن ليس للانسن الا ما سعى  ( النجم : 39)

“Dan sungguh seorang manusia tiada mempuyai hak selain pahala dari amal yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm : 39)

Kendati demikian, pendapat imam Syafi’i ini tidak lepas dari kajian kritis para tokoh madzhabnya. Semisal Ibn ash-Sholah yang berpendapat bahwa pahala tersebut bisa sampai kepada mayit. Menurut hemat beliau, maksud ayat tersebut adalah sesorang hanya mempunyai hak dan balasan dari amalnya. Tidak menjelaskan tentang pahala dari hadiah orang lain.

Sementara menurut ulama selain Ibn ash-Sholah, pendapat Imam Syafi’i itu hanya berlaku bila memang setelah bacaan al-Qur’an tidak disusul dengan do’a agar pahala bacaan tersebut sampai pada mayit.

Menurut Ulama madzhab Hanabilah bahwa semua pahala ibadah yang kita hadiahkan pada mayit akan sampai kepadanya tanpa mempertimbangkan disusul dengan do’a atau tidak. Pendapat mereka ini merujuk pada al-Qur’an dan Hadits.

والذين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفرلنا ولإخوننا الذين سبقونا بالإيمن ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين ءامنوا ربنا انك  رءوف رحيم  (الحشر : 10)

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdo’a; “Ya Tuhan kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kamiterhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr:10)

  1. B.     PERMASALAHAN SEPUTAR TAHLILAN
    1. 1.      Tahlilan Saat Nyewu, Haul, Matang puluh, dan Semisalnya

Biasanya, tahlilan dilaksanakan pada hari kematian mayit sampai mitung dino, matang puluh, nyatus, nyewu, dan haul, sebagai ungkapan kasih sayang padanya. Lalu, bagaimana hukum tahlilan pada hari-hari terebut?

Untuk menjawab peranyaan ini kita harus mengetahui pokok permasalahannya, yaitu mengkhsuskan sebuah ibadah pada watu tertentu tanpa adanya dalil yang menjelaskannya. Seperti contoh tradisi berjabat tangan susi shalat subuh dan ashar. Sebenarnya tidak ada anjuran khusus dari syari’at untuk melakukannya pada waktu tersebut. Namun tetap boleh dilakukan karena hukum asalny adalah sunnah. Seperti penjelasan Imam Nawawi dalam Majmu’nya;

“Dan disunnahkan berjabat tangan dalam setiap perjumpaan. Sedangkan tradisi berjabt tangan yang dibiasakan masyarakat setelah shalat subuh dan ashar tidak ada dalil syari’atnya secara khusus, akan tetapi tidak apa-apa dilakukan, karena hukum asal berjabat tangan adalah sunnah. Sedangkan kebiasaan mreka mengkhususkannya dalam sebagian kesempatan dan melalaikannya dalam sbagian besar waktunya tidak akan mengeluarkan dari masyru’iyyah (hukum sunnah) melaksanakannya pada waktu tesebut.”[vi]

Dari sini dapat dipahami, bahwa mentradisikan sebuah ibadah pada waktu tertentu tanpa ada dalil yang mensyari’atkan, maka hukumya boleh. Karena mempertimbangkan hukum asal bacaan tersebut adalah sunnah.

Dengan demikian, pembacaan tahlil pada hari-hari tertentu tidak bisa menjadikannya keluar ari syari’at. Pengamalannya tetap mendapatkan pahala kesunnahan dari pembacaan al-Qur’an, dzikir dan do’a yang dibaca, karena aktifitas semacam ini dihukumi sunnah, akan tetapi tidak memperoleh pahala dari sisi pengkhususan melaksanakan tahlilan diwaktu-waktu tersebut.

Dalam tradii tahlilan, dapat kita sebutkan dua alasan mendasar dari pihak yang tidak setuju dengan tradisi ini;

1)      Mengikuti atau melanjutkan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, apalagi diadopsi dari adat kepercayaan orang musyrikin, maka hal ini sangat dilarang.

2)      Berkumpul dan mengadakan jamuan makanan setelah pemakaman mayit merupakan satu bentuk niyahah (meratapi mayit) yang dilarang agama.

Untuk menjawab sub yang pertama, Memang kita akui, banyak adat istiadat orang kuno (jahiliyyah), yang dilestarikan masyarakat. Salah satunya adalah tradisi berkumpul dirumah duka setelah kematian. Akan tetapi bukan berarti setiap adat tersebut haram dilakukan oleh seorang muslim. Sebagaimana duduk-duduk disekitar rumah duka. Ternyata dari kalangan sahabat banyak sekali yang mempraktekannya. Seperti dalam sebuah hadits disebutkan;

حدثنا عبدان حدثنا عبد الله اخبرنا ابن جريج قال اجبرني عبد الله بن عبيد الله بن ابي مليكة قال توفيت ابنة لعثمان رضي الله عنه بمكة وجئنا لنشهدها وحضرها ابن عمر و ابن عباس رضي الله عنهم واني لجالس بينهما او قال جلست الى احدهما ثم جاء الأخر الى جنبي

“Abdan, Abdulloh dan Ibn Juraij bercerita padaku, ia berkata; “Abdulloh bin Ubaidillah bin Abi Mulaikah bercerita; Anak perenpuan ‘Utsman RA wafat di Makah dan aku berkunjung untuk melayatnya, Ibn ‘Umar dan Ibn ‘Abbas RA(juga) mengunjunginya, dan aku duduk diantara keduanya atau beliau berkata; “aku duduk didekat salah satunya.” Kemudian dating lagi orang lain, lalu duduk di sampingku.”

Walaupun oleh ulama Hanafiyah kegiatan ini dianggap sebagai tradisi Jahiliyyah, namun mereka lebih mnegedepankan tujuannya, yakni menanti pengiringan jenazah ke makam atau ta’ziah yang jelas-jelas dianjurkan agama.

  1. 2.      Jamuan dan Berkat Saat Kematian, Mitung dino, Matang Puluh, dan Semisalnya

Setelah tahlilan pasca kematian selesai, tuan rumah menjamu jamaah dengan makanan dan minuman. Tidak hanya itu, mereka juga diberi berkat (buah tangan) untuk dibawa pulang. Lalu bagaimana hukum tradisi sedekah bagi mayit dengan memberi jamuan makan dan berkat pasca kematian dan dalam acara-acara tertentu?

Setali tiga uang dengan masalah tahlilan. Tradisi sedekah bagi mayit dengan memberi jamuan makanan dan berkat pada acara tersebut diperbolehkan karena sekedar adat saja. Dan keluarga duka juga mendapatkan pahala kesunnahan dari sedekah yang dikerjakan, karena, ditinjau dari sisi hokum sedekah sendiri adalah sunnah. Namun ia tidak mendapatkan pahala dari sisi pengkhususan bersedekah di dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

Lalu bagaimana dengan Hadits yang diceritakan oleh Jarir bin Abdillah al-Bajali yang berbunyi;

كنا نرى الإجتماع الى اهل الميت وصنعة الطعام من النياحة

“Kami menganggap berkumpul dengan keluarga duka dan jamuan makanan termasuk niyahah.” (HR. Ibnu Majjah)

Bukankah hadits tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa berkumul dengan keluarga duka dan penyajian jamuan makan pasca kematian termsuk niyahah yang dilarang agama.

Dalam sebuah Hadits, diceritakan sangat jelas bahwa Rasululloh pun pernah memenuhi undangan untuk memakan jamuan dari keluarga mayit dan akhirnya di ikuti oleh para sahabatnya.

حدثنا محمد بن العلاء اخبرنا ابن ادريس اخبرنا عاصم بن كليب عن ابيه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على القبر يوصي الحافر اوسع من قبل رجليه اوسع من قبل رأسه فلما رجع استقبله داعي امرأته فجاء ونحن معه وجيء بالطعام فوضع يده  ثم وضع القوم فأكلوا فنظرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يلوك لقمة في فمه…….

“Muhammad bin al-Ala’, Ibn Idris, ‘Ashim bin Kulaib bercerita adaku, dari ayahnya, dari salah seorang sahabat Anshar, ia berkata; “Saya pernah melayat bersama Rasul. Dan disaat itu saya melihat beliau diatas kuburan memerintah penggali kubur seraya bersabda; “Luaskan bagian kedu kakinya, luaskan bagian kepalanya”, ketika pulang, beliau disambut oleh utusan istri si mayit, kemudian Rasul memenuhi undangannya dan kami menyertainya. Saat jamuan dihidangkan, beliau mengambilnya dan yang lainpun mengikutinya kemudian mereka makan bersama. Lalu saya melihat Rasul mengunyah makanan dalam mulutnya…..” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi)

  1. 3.      Warisan Budaya Mitung Dino Para Sahabat Nabi dan Tabi’in

Terdapat beberapa keyakinan bahwa budaya ini adalah anjuran langsung dari Nabi Muhammad. Yakni dengan adanya atsar yang menyatakan bahwa orang mukmin mengalami fitnah kubur selama tujuh hari, sementara orang munafik mengalaminya selama empat puluh hari.  Sebagaimana diutarakan Imam Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawinya;

قال طاووس ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الأيام

“Thawus berkata; “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka(sahabat Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.

Bila demikian, maka bisa dipahami bahwa tradisi bersedekah selama miting dino merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau. Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan :

Dengan demikian sudah sangat jelas sekali bahwa tradisi-tradisi atau budaya-budaya yang telah mengakar pada kehidupan masyarakat kita, tidak jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Nabi dan para sahabat beliau. Semua terbukti dengan adanya dalil-dalil yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Tradisi-tradisi lurus yang harusnya dipertahankan jangan sampai lepas dan hilang dari akar kebudayaan islam yang telah disebarkan oleh pikiran-pikiran arif para penyebar agama Islam, Wali Sanga. Karena tingkat pemikiran mereka jauh lebih kedepan dan lebih mampu untuk mengerti sikap dan watak awam masyarakat.

Dan meskipun dengan maraknya dan hadirnya aliran-aliran pemikiran baru dalam Islam, pemahaman tentang tradisi dan budaya yang telah lurus, tidak memperoleh gangguan dari pemikiran-pemikiran luar yang cenderung kurang mampu untuk meneliti lebih jauh lagi kedalam sumber-sumber yang telah ada.

Meskipun tidak disangkali adanya perbedaan pendapat dari kalangan Ulama sendiri, namun dengan pemikiran yang bijak, kita tidak akan dengan mudah menganggap sesuatu hal yang baru adalah bid’ah dan sesat. Karena dengan jelas, meskipun Imam Syafi’I sendiri tidak setuju dengan penghadiahan pahala bacaan al-Qur’an pada mayit, namun pemahaman semacam ini jangan dipahami dengan sepenggal-sepenggal. Karena pembacaan tersebut, menurut Imam Syafi’I, akan tetap sampai dengan penambahan do’a.

Selanjutnya kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Allah, Rasul, dan Kitab-Nya yang begitu besar memberikan petunjuk terbesarnya kepada kami. Kepada kedua orang tua. Juga kepada Bapak Fadlil .M.A selaku dosen mata kuliah Metopdologi Studi Islam, atas kesempatan dan bimbingannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini, dan tak lupa rekan mahasiswa SETIA Wali Sembilan atas sumbangan idenya. Serta kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebut satu persatu. Dan semoga kami memperoleh balasan yang semestinya atas apa yang kami berikan, Jazakumulloh ahsanal jaza’                                                                                                                                         Brabo, 13 Januari 2011

DAFTAR PUSTAKA

–          Ibn Faris, “Maqayis al-Lughoh”, Juz I, hlm. 203.  CD al-Maktabah asy-Syamilah.

–          Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, Mafahimu Yajibu an-Tushahhah, Surabaya; PP. Al-Fithrah,

–          Ibn Hajar al-Asqolani, Fath al-Bari, Beirut: Dar al-Fikr, tt, Juz XIII,

–          Izzuddin bin Abdissalam, Qawa’id al-Aahkam fi Mashalih al-Anam, Mu’assisah ar-Rayyan, tt, Juz II,

–          An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Madinah: Maktabah as-Salafiyah, tt Juz IV

–          TIM FKI (TAHTA) 2010,      Tradisi & Adat Masyarakat MENJAWAB VONIS BID’AH, Pustaka Gerbang Lama, Lirboyo, Kediri


[i] Ibn Faris, “Maqayis al-Lughoh”, Juz I, hlm. 203.  CD al-Maktabah asy-Syamilah.

[ii] Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, Mafahim Yajib an-Tushahhah, Surabaya; PP. Al-Fithrah, tt, hlm. 104-105

[iii] Ibn Hajar al-Asqolani, Fath al-Bari, Beirut: Dar al-Fikr, tt, Juz XIII, hlm. 254

[iv] Izzuddin bin Abdissalam, Qawa’id al-Aahkam fi Mashalih al-Anam, Mu’assisah ar-Rayyan, tt, Juz II, hlm. 337

[v] Ibn Hajar al-‘Asqolani, op.cit., Juz II, hlm. 99

[vi] An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Madinah: Maktabah as-Salafiyah, tt Juz IV, hlm. 633

النار

One thought on “Tahlil, antara bid’ah dan sunnah

  1. Ping-balik: Tahlil, antara bid’ah dan sunnah | Mapel Ke-NU-an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s