3 Putra, 2 Pewaris

Seorang pedagang kaya berbaring di atas tempat tidurnya dan, karena tahu saat kematiannya sudah tiba, dia memanggil ketiga putranya mendekat. Sepanjang usianya, dia rajin shalat, berpuasa dan bertaqwa kepada Allah, dan ketiga putranya dia beri nama Muhammad. Tiga Muhammad datang mencium tangan ayahnya, dan pedagang itu memberi mereka wasiat, “Muhammad akan menjadi ahli waris,” katanya, “dan Muhammad akan menjadi ahli ahli waris. Akan tetapi, Muhammad tidak akan menjadi ahli waris.” Lalu dia memalingkan wajah dan meninggal.

Selama tujuh hari anak-anak itu berkabung atas kematian ayah mereka, dan selama tujuh hari berikutnya mereka menahan lidah dan tidak mengucapkan sepatah katapun tentang warisan. Tapi kemudian mereka bertengkar, dan mereka bertanya, Muhammad mana yang tidak mendapatkn warisan. Meskipun mereka bertiga adalah orang-orang yang pandai, mereka tidak bisa memecahkan masalah mereka. Akhirnya, mereka sepakat untuk membawa urusan mereka kepada qadi yang kebijaksanaannya telah tersebar kepelosok negeri.

Tiga bersudara itu menuju gedung pengadilan yang jauh dari tempat tinggal mereka. Di tengah perjalanan, mereka berhenti di sebuah tempat berumput untuk istirahat.

“Seekor unta yang tidak memiliki ekor pernah beristirahat disini,” kata anak tertua sambil melihat kesekelilingnya.

“Seekor unta bermata satu,” kata anak kedua.

“unta itu memuat lemak di satu sisinya dan manisan di sisi yang lain.” Kata anak ketiga.

Setelah lama istirahat, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Dan tak lama berselang, mereka melihat seorang pria memegang sebatang tongkat unta mendekati mereka.

“Apakah engkau kehilangan untamu?” Tanya mereka.

“Ya, belum sampai satu jam yang lalu dia kabur!” kata pria itu.

“Apakah unta itu tidak berekor?” Tanya anak pertama.

“Ya, ya,” kata pria itu.

“Dan matanya buta sebelah?” Tanya anak kedua.

“Ya, itu untaku!”

“Apakah membawa lemak di satu sisi dan manisan di sisi yang lain?” Tanya anak ketiga.

“Benar, ya, membawa muatan mentega matang dan sirup kurma! Katakan padaku dimana unta itu berada, dan semoga Allah memberi kalian imbalan.”

“semoga Allah mengembalikannya kepadamu” kata anak tertua.

“kami belum pernah melihat untamu!”

“Wahai orang yang tak tahu malu, kalian telah mencuri untaku. Bagaimana bisa menyangkalnya?” teriak pria itu. “Akan kutuduh kalian dihadapan Qadi”

“kesanalah kami akan pergi sekarang.” Kata pemuda tersebut. “Ikutlah bersama kami dan mari kita selesaiakan masalah ini dihadapannya.” Tentu saja pria itu setuju.

Selanjutnya keempat pria itu tiba didepan pintu Qadi. Setelah mengucapkan salam, sidangpun dibuka. Qadi bertanya apa yang memuat mereka datang kepadanya.

“Ketiga anak muda ini telah mencuri untaku!” teriak pemilik unta.

Setelah dia menceritakan semua yang telah terjadi, Qadi berkata, “Dalam keadilan dan kebenaran, kalian harus mengembalikan unta itu kepda pemiliknya.”

“Dengan Allah sebagai saksi,” kata ketiga pemuda tersebut, “kami tidak mencurinya atau menyembunyikannya.”

“Lalu bagaimana kalian bisa menggambarkan ternakku tepat sebagaimana adanya ; tidak berekor, buta, membawa lemak dan sirup?” teriak pemilik unta.

“Ya,” kata Qadi, “bagaimana kalian tahu bahwa seekor unta tidak punya ekor jika kalian belum pernah melihatnya?”

“Dalam perjalanan kami meminta nasihat kepada baginda yang mulia Qadi atas kesulitan yang kami alami,” kata anak tertua, “kami tiba disuatu tempat yang berumput tinggi. Kamipun beristirahat disana. Ketika melihat sebagian rumput rebah dengan sedemikian rupa, aku tahu bahwa seekor unta pernah beristirahat disana. Tetapi dedaunan dan rerumputan tempat seharusnya ekor unta bergoyang kekanan dan kekiri, tidak tersentuh sama sekali. Maka aku menduga bahwa binatang itu tidak memiliki ekor.”

“Dan dengan cara bagaimana kamu mengetahui kalau matanya buta sebelah?” tanya Qadi.

“Ditempat unta itu beristirahat,” anak kedua berkata, “disatu sisi rumputnya terpotong sampai ketanah dan disisi lainnya tetap rimbun. Ini membuatku berfikir bahwa unta itu tidak dapat melihat hamparan rumput disisi tersebut”.

“Lalu bagaimana kamu tahu tentang muatan unta tersebut?” tanya Qadi.

Anak ketiga berkata, “Ada ratusan semut disatu sisi, dan mereka menyukai manisan. disisi lain banyak sekali lalat, mereka suka makanan yang berminyak. Maka kusimpulkan bahwa unta itu telah menumpahkan sesuatu yang berlemak dan sesuatu yang manis ketika unta itu bangkit berdiri.”

“Pergi dan carilah hewan ternakmu, dan semoga Allah membuka jalan dihadapanmu,” kata Qadi kepada pemilik unta.

“Allah telah menganugerahkan pada pemuda-pemuda ini kecerdasan sedemikian rupa sehingga mereka mampu mengenali sesuatu secara terperinci tanpa pernah melihatnya.

Lalu Qadi mencurahkan perhatiannya kepada kepada tiga bersaudara ini. “beristirahatlah dirumahku sebagai tamu, dan besok kalian bisa sampaikan padaku masalah yang kalian bawa kesini,” katanya.

Seekor domba dipotong dan hidangan dimasak. Tiga bersaudara itu duduk menikmati jamuan makan. Sementara itu, Qadi, tuan rumah mereka, bersembunyi diambang pintu yang tertutup tirai yang rapat, mendengarkan apa yang mungkin dikatakan tamu-tamunya yang pandai itu.

Tidak lama kemudian dia mendengar anak tertua mengeluh, “Daging ini adalah daging anjing dan tidak boleh dimakan!”

Yang kedua menambahkan, “perempuan yang memasak makanan kita sedang haid!”

Yang ketiga berkata, “Apa yang kalian harapkan, jika tuan rumah kita seorang anak haram.”

“Husy!” bisik yang lain. “Jangan menghina Qadi!”

“Anak haram dan penyandang aib,” anak ketiga mengulangi perkataannya.

Dengan tanpa suara, Qadi meninggalkan tempat persembunyiannya. Dia merenggut tubuh pelayanya dan menuntut, “Bagaimana kamu bisa mempermalukan rumah ini dan menyuguhkan daging anjing, yang paling najis, dihadapan tamu-tamu kita!”

“Demi hidupmu, kami tidak melakukannya,” kata pelayan, “Tanya penggembala yang menyembelih domba itu.”

Gembala dipanggil dan ia berkata, “domba dewasalah yang kami potong malam ini, demi Allah, tapi ketika dia dilahirkan, induknya mati, dan aku menyusukannya kepada induk anjing yang sedng menyusui anak-anaknya.”

Qadi terkejut. Dia bergegas pergi kedapur dan mencari juru masak. “Apakah kamu sedang haid?” perempuan yang ditanya hanya mengangguk mengaku demikian.

Kini Qadi mulai merasa cemas dan khawatir. Dia memasuki kamar ibunya. Sambil merenggut leher perempuan itu dan menodongkan belatinya didepan matanya, dia berkata, “Katakan yang sebenarnya tentang ayahku, atau aku akan membunuhmu sekarang juga!”

Perempuan itu akhirnya membuka kebenarannya “ada seorang pedagang keliling yang menawarkan jualannya kerumah. Mungkin memang sudah ditakdirkan aku menyimpang dari jalan yang lurus, pedagang itu menghamiliku dan aku melahirkan kamu. Semoga Allah mengampuniku.”

Qadi berguling-guling gelisah sepanjang malam hingga tak sanggup menutupkan mata. Keesokan harinya, dia menemui ketiga pemuda itu dan berkata, “Nah, kesulitan apa yang tidak dapat kalian selesaikan dengan segala kepandaian kalian?”

Mereka berkata, “Menjelang ajal ayah kami berwasiat kepada kami, ‘Muhammad akan menjadi ahli waris, Muhammad akan menjadi ahli ahli waris. Tetapi, Muhammad tidak akan menjadi ahli waris .’ karena kami semua bernama Muhammad, kami tidak tahu siapa diantara kami yang bukan ahli waris.”

“sementara aku mencoba memecahkan permasalahan kalian, maukah kalian menjawab beberapa pertanyaanku?” kata Qadi.

“Apa yang membuatmu mengambil kesimpulan daging itu daging anjing”

Pemuda itu menjwab, “Otot-otot kakinya lebih besar dan keras dibanding otot domba, menyerupai otot binatag yang harus berlari kencang.”

“Bagaimana kamu bisa menduga, gadis yang memasak makanan itu sedang haid?”

Pemuda kedua menjawab, “Tidak ada bumbu dalam masakan kami, sebab gadis yang sedang haid tidak dapat membedakan makanan yang terlalu asin dan terlalu manis.”

Qadi berdiam sejenak, lalu berpaling kepada pemuda yang menyebutnya anak haram dan pembawa aib, ia berkata, “Muhammad dan Muhammad kakakmu akan menjadi ahli waris, dan kamu tidak.”

“Mengapa demikian?” tanya pemuda itu heran. “Ayahmu mewariskan kekayaannya kepada anak-anaknya yang sesungguhnya, yaitu anak-anak yang lahir dari bibitnya,” kata Qadi. “Dan sudah umum diketahui bahwa hanya anak haram yang dapat mengenali anak haram.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s